Tuesday, October 6, 2009

Trio Bank Malaysia Mulai Merajalela (1)


Saat menuju ke kantor awal pekan ini, saya mendapat penawaran berupa jasa layanan perbankan dari ICB Bumiputra. Namun, saya mengatakan bahwa sekarang ini, belum dapat mencoba layanan KTA (kredit tanpa agunan) itu. Sejujurnya saya agak terkejut juga, karena ‘seumur-umur’, baru kali saya mendapat penawaran langsung melalui telemarketing dari staf bank tersebut. Hebatnya juga, bagaimana bisa nomor ponsel saya bisa bocor?

Namun soal nomor ponsel bisa langsung saya tepis, karena berulang kali bank-bank swasta lain, terutama asing kerap menawarkan beragam layanan perbankan lainnya, dari jasa tabungan pendidikan anak, bank assurance, hingga KTA. Yang menjadi concern saya adalah begitu agresifnya staf ICB Bumiputra pasca pengambilalihan bank itu pada April 2009 lalu.

Sekedar diketahui, Bank Bumiputra yang berawal dari asuransi Bumiputra dilego ke Internasional Commercial Bank (ICB) dari Malaysia dalam dua tahap. Terakhir, kepemilikan ICB mencapai 67 persen, 5 persen milik asuransi Bumiputra dan sisanya milik masyarakat.

Sebagai konsekuensi dari pembelian tersebut, maka dalam RUPS disepakati bahwa nama Bank Bumiputera berubah menjadi ICB Bumiputera. Meski mengalami perubahan nama dan kepemilikan, pihak ICB sebagai majikan baru menyatakan bahwa konsep bank Bumiputera tetap dipertahankan sebagai bank omersial yang berfokus pada ritel dan konsumer. Itu sebabnya, tahun ini mereka akan menggenjot kredit baik berupa KPR maupun Kredit Tanpa Agunan (KTA). Untuk KTA, bank itu punya dua produk. Ada yang melalui kerja sama dengan corporate dan ada KTA Profesi.

Sejak dimiliki ICB, bank Bumiputra yang bukan lagi milik pribumi memang tancap gas. Direktur Keuangan ICB Bumiputra Tay Un Soo, menargetkan dapat meraih posisi lima besar bank ritel di Indonesia pada 2014 nanti. Untuk itu, manajemen ICB berkomitmen untuk terus memperbesar asset, permodalan dan kapasitas dalam menyalurkan kredit, terutama kredit ritel dan usaha kecil menengah (UKM).

Namun untuk merealisasikan ambisi itu, tidak mungkin dilakukan secara organik mengingat waktunya yang terbilang singkat. Itu sebabnya, ke depan, Soo mengungkapkan bahwa manajemen akan melakukan berbagai aksi korporasi, baik menambah modal maupun melakukan akuisisi. “Bila ada peluang untuk mengakuisisi bank atau perusahaan pembiayaan, kenapa tidak?” ujarnya. Menurut Un Soo, untuk menjadi bank yang kuat di segmen ritel, perusahaannya harus memiliki perusahaan pembiayaan (multifinance).

Hanya saja, saat ini pihaknya masih belum mendapat satu bank atau perusahaan pembiayaan yang layak untuk diakusisi. Namun untuk mengkatrol kinerja dan pertumbuhan usaha, ia memastikan, ke depan langkah akuisisi akan dilakukan ICB Bumiputra.

No comments: