Thursday, November 26, 2009

G.I. Joe dan Fenomena Bisnis Action Figure


Meskipun tergolong dalam katagori mainan, action figure ternyata lebih banyak digemari orang dewasa. Pasalnya, mainan berbentuk boneka ini memiliki daya magis yang sangat kuat. Mainan tersebut bukan hanya sebatas toys for play, juga sudah menjadi hobi untuk dikoleksi, bahkan menjadi alat investasi.

Miniatur tokoh ini biasanya diambil dari karakter tokoh-tokoh populer, baik dari komik, film, musik maupun olahraga. Kesukaan terhadap tokoh aslinya berimbas pada keinginan untuk memiliki replikanya. Sama seperti hobi koleksi lainnya. Mereka yang telanjur suka dengan action figure seolah tak mau lepas.

Padahal koleksi mainan itu memiliki harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Umumnya, setelah orang memiliki satu action figure idolanya, dia akan mencari mainan lainnya. Awal coba-coba itu pun berubah menjadi keterusan. Tidak hanya mengkoleksi mainannya, namun juga game hingga nonton film bertema sama.

Ambil contoh tokoh yang tetap populer sejak diperkenalkan pada 1970 yakni G.I Joe. Bisa dibilang, G.I. Joe adalah pelopor military action figure. G.I. Joe bercerita tentang sekelompok pasukan elit yang menumpas organisasi kriminal pimpinan seorang penyelundup senjata ternama.

Popularitas G.I Joe pun akhirnya merambah ke layar lebar dan game. Seperti kita ketahui, G.I. Joe: The Rise of Cobra buatan Paramount Pictures dan Spyglass Entertainment, sudah ditayangkan pada Juni 2009, dan dibintangi antara lain oleh Dennis Quaid, Channing Tatum, Marlon Wayans, dan Sienna Miller. Sementara untuk gamenya, Electronic Arts (EA) juga sudah merilis game dengan judul sama G.I. Joe: The Rise of Cobra dan beredar Agustus lalu.

Berbeda dengan versi layar lebar, pada versi game EA menghadirkan jalan cerita yang tak terungkapkan di film layar lebarnya, dimana pengguna game ini dapat memilih 12 karakter yang tersedia untuk dimainkan. Game ini sendiri tersedia untuk platform gaming konsol dan portabel umum seperti Xbox 360, PlayStation 3, Wii, PlayStation 2, PSP, Nintendo DS, dan perangkat genggam lainnya. Proyek pembuatan game itu dilakukan oleh EA dan bekerjasama dengan Hasbro, yang memegang hak cipta untuk merek G.I. Joe.

Kolaborasi Paramount Pictures dan Spyglass Entertainment berbuah manis. Dominasi film sekuel Harry Potter selama tiga pekan berturut-turut dalam pemutaran film tingkat internasional berhasil dipatahkan oleh G.I. Joe: The Rise of Cobra.

Menurut pihak Paramount Pictures, film prajurit robot Amerika ini berhasil mengumpulkan Rp 997 miliar dari penjualan tiket di seluruh dunia. Catatan Reuters menunjukkan, pemasukan paling besar dari penjualan tiket di Amerika Serikat dan Kanada sekira Rp 558 miliar. Sedangkan dari luar negeri mendapatkan Rp 438 miliar.

Dari penjualan tiket di luar negeri, tertinggi dari Korea Selatan Rp 55 miliar. Film robot tentara Amerika ini bahkan menjadi film yang paling banyak ditonton di kedua negara yang tidak suka dengan militer Amerika, yaitu Cina dengan Rp 47 miliar dan Rusia dengan Rp 45 miliar.

Sementara film Harry Potter and the Half-Blood Prince mendapatkan Rp 308 miliar dari pemutaran film di seluruh negeri sepanjang Juni lalu. Meski begitu, pemutaran total film ini sudah mencapai Rp 8,1 triliun dari penjualan tiket. Penjualan tiket di Amerika sendiri untuk film ini sudah mencapai Rp 2,7 triliun.

No comments: