Thursday, September 10, 2009

Blackberry Jadi-Jadian dan Lost Opportunity Operator


Luar biasa melihat geliat ponsel China dan kemampuan bertahannya di pasar domestik. Setelah ponsel dengan fasilitas TV tuner tidak lagi menjadi key driver, kini mereka ramai-ramai mengepung Blackberry (BB) yang sejak setahun terakhir mampu menyedot animo pengguna ponsel.

Sukses Nexian yang sempat dipelesetkan dengan NexianBerry, mendorong vendor China lainnya untuk tidak melewatkan gula-gula di depan mata. Alhasil, kini semakin bermunculan BB-BB baru rasa China. Tengok saja, setelah HT Mobile lewat seri G30 dan Mito, pertengahan Agustus lalu giliran D-One, yang ikut mengeluarkan produk serupa.

Sekilas ponsel ini mirip dengan BB Javelin atau Curve 8900, namun lebih ramping dan tipis. Ponsel ini juga memiliki trackball yang benar-benar dapat difungsikan. BB ”jadi-jadian” ini memiliki dual SIM card, MP3 player, FM radio, dan juga kamera 2 megapiksel. Produk ini dibanderol seharga Rp 999.000. Seperti halnya Nexian, untuk mendorong penjualan, D-One menggandeng Exelcomindo. Pengguna dapat mengakses Facebook dan chatting gratis selama 5 bulan. Pihak Sarindo Nusa Pratama sebagai principal, sangat optimistis dengan produk berseri DG- 628 ini. Tak kurang dari 500 unit telah disiapkan untuk tiga bulan ke depan.

Sejumlah kalangan menilai, ponsel China yang sempat ”mati angin” akan menemukan kembali pasarnya dengan adanya momentum BlackBerry. Kecenderungan masyarakat Indonesia yang mengikuti gaya hidup, membuat ponsel China yang terkenal murah menjadi alternatif menarik. Tambahan lagi karena virus social networking, saat ini masyarakat semakin memerlukan handset yang tidak lagi sekedar voice dan SMS, namun juga dapat berkomunikasi dengan beragam fitur anyar, seperti yahoo messenger, facebook, dan sebagainya.

Keputusan pemerintah yang sempat membekukan izin importasi BB karena terganjal regulasi layanan purna jual, juga mendorong perubahan selera pasar secara cepat. Kosongnya produk dengan segera diisi oleh BB ala China.

Kondisi inilah yang memicu lost opportunity pada operator. Lihat saja langkah Indosat. Pasca pencabutan pembekuan sertifikasi produk BB oleh Depkominfo awal pekan ini, mereka belum berani merealisasikan importasi BB tipe terbaru dalam jumlah besar.

Dari diskusi saya dengan Group Brand Marketing Indosat Teguh Prasetya, terungkap bahwa Indosat sangat berkeinginan untuk segera mendatangkan BB kelas menengah, yakni Gemini yang sebelumnya sudah banyak dikenal melalui milis atau pemberitaan di berbagai media. Tidak seperti Bold atau Javelin yang berharga di atas 6 jutaan, Gemini meski tidak memiliki fitur lengkap, bisa dipatok dengan harga Rp 3-4 jutaan.

Namun, Teguh tidak terlalu yakin kalau Gemini bisa laku keras, mengingat saat ini semakin banyak beredar produk sejenis keluaran China dan harganya dibawah Rp 1 juta. Melihat kondisi itu, Indosat tampaknya lebih bersikap konservatif. Teguh bilang, untuk tahap awal pihaknya baru berani mendatangkan 20 ribu unit saja. Itu pun baru akan dilepas ke pasar pasca lebaran.

No comments: