Tuesday, November 22, 2011

Booming Teknologi Pengaman Aktif


Selain berlomba-lomba menciptakan mobil irit atau berbahan bakar alternatif, produsen otomotif kini juga semakin concern dengan keselamatan pengendara. Keterlibatan vendor gadget juga mendukung langkah menciptakan mobil yang tidak saja nyaman tapi juga benar-benar aman.

Data WHO menunjukkan bahwa rokok adalah pembunuh nomor satu di dunia. Namun fakta lain juga memperlihatkan bahwa tingkat kematian akibat kematian di jalan raya dari tahun ke tahun juga meningkat secara signifikan. Itu sebabnya, ditengah usaha menciptakan mobil-mobil irit atau berbahan bakar alternatif seperti fuel cell, ethanol bahkan alkohol, produsen mobil juga terus berupaya meningkatkan sistem pengamanan mobil dengan dukungan teknologi yang lebih canggih.

Seperti kita ketahui, perangkat pengaman pada mobil terbagi dua, aktif dan pasif. Perangkat aktif antara lain, ESP (electronic stability program) yang mencakup pengendali traksi (traction control), ABS (antilock bracking system), EBD (electronic brake-force distribution) dan BAS (brake assist system). Kesemuanya berfungsi untuk membantu pengemudi menghindari kecelakaan atau sebelum kecelakaan benar-benar terjadi.

Sedangkan perangkat keamanan pasif, antara lain penggunaan rangka yang diperkuat oleh zona penyerap bantuan (crumpled zone), besi pelindung di bagian dalam pintu-pintu, sabuk pengaman pada seluruh kursi yang dilengkapi dengan pretensioner dan penyerap daya benturan, serta kantung udara (airbag) baik di depan, disamping atau disisi bagian dalam mobil dari pilar A sampai C (curtain airbag). Semua perangkat keamanan pasif itu, akan melindungi maupun penumpang saat kecelakaan terjadi.

Belakangan, perangkat keamanan pasif boleh dibilang tidak mengalami banyak inovasi. Namun tidak demikian halnya dengan perangkat aktif. Dalam beberapa tahun terakhir, pabrikan mobil makin intens dalam melakukan riset untuk menghasilkan sistem pengamanan yang lebih canggih dan bersifat peringatan dini (alert system). Hal ini cukup wajar, karena riset yang dilakukan para ahli di Oxford University menyimpulkan bahwa sistem peringatan dini, seperti menggetarkan pantat, tangan, kaki dan audio warning, ternyata dapat memangkas angka kecelakaan hingga 15 persen.

Riset yang dipimpin oleh Dr. Charles Spence mengungkapkan, pengendara mobil cenderung mengalami information overload, seperti gejala panik, bingung, gelagapan, sampai kondisi hilang kontrol, saat berusaha merespon sinyal warning yang pada dasarnya dirancang untuk menghindarkan diri dari kecelakaan.

Merujuk pada hasil riset tersebut, jelas diperlukan sistem yang dapat memberikan peringatan dini secara bertahap dan terarah, sesuai level bahaya dan dari mana kemungkinan bahaya itu mendekat. Karenanya, tim riset menyarankan perlu pabrikan mobil memasang panel getar pada kursi, seatbelts, pedal-pedal dan kemudi. Sementara audio warning dapat diletakkan pada tempat terpisah. Jadi bila bahaya datang, misalnya dari samping, dari sanalah peringatan suara akan berasal.

Citroen dan Toyota

Riset yang dilakukan oleh tim peneliti Oxford itu, ternyata tidak sia-sia. Pabrikan asal Perancis, Citroen, misalnya meluncurkan Citroen C4 dan C5, yang merupakan mobil pertama di dunia yang menawarkan sistem peringatan dengan getaran. Mobil yang meraih penhargaan five star untuk tingkat keamanan tertinggi dari badan independen European New Car Assesment Program (Euro NCAP) itu, memang layak menjadi acuan bagi pabrikan mobil lain.

Optional system yang diadopsi oleh Citroen C4 dan C5 dapat mendeteksi saat mobil keluar jalur. Bila keluar jalur sebelah kanan, maka bagian kanan akan bergetar. Begitu juga jika sebaliknya. Panel pada dashboard pun dirancang sedemikian rupa. Citroen membagi indikator konvensional seperti full beam dan engine terpisah dengan panel instrumen yang menyangkut bahaya. Sehingga konsentrasi pengemudi tidak terpecah, karena sumber bahaya akan segera diketahui bila ada cahaya berkedip dari area yang tidak biasanya.

Pabrikan asal Jepang, Toyota pun tidak ketinggalan. Toyota yang dikenal sebagai pabrikan mobil nomor satu di dunia termasuk pada katagori mobil hybrid, ternyata juga sangat concern dalam menelurkan perangkat keamanan aktif. Pada penyelenggaraan Auto Summit di Detroit, AS, 2006 lalu, Toyota telah memperkenalkan sejumlah perangkat yang dapat memonitor kondisi tubuh dan perilaku pengendara (driver’s mood). Perangkat yang diletakkan pada seat covers itu, dapat memonitor tensi darah sehingga pengemudi dapat mengetahui beragam kondisi saat tengah menyetir, apakah nervous, panik atau stabil. Bila panik, panel indikator berupa lampu peringatan akan menyala, sehingga memberi kesempatan kepada pengemudi untuk rehat sejenak agar kembali tenang yang akan ditunjukkan lewat normal light.

Perangkat lain adalah diabetes detecting monitor yang diletakkan pada sisi luar kemudi. Bagi pengidap diabetes, perangkat ini tentu sangat bermanfaat karena dapat menjadi indikator tensi darah saat berada dibalik kemudi.

Vendor Telekomunikasi

Menariknya, diluar perangkat yang dikembangkan langsung oleh para pabrikan mobil, sejumlah vendor telekomunikasi pun mulai ikut nimbrung dalam urusan ini. Siemens misalnya, beberapa waktu lalu telah memperkenalkan teknologi NVPRS (Night Vision and Pedestrian Recognizition System). Dalam pameran Frankfurt Motor Show 2005, perangkat aktif ini cukup menyedot perhatian pengunjung.

NVPRS merupakan perangkat yang mengkombinasikan lampu infrared dari kamera yang diletakkan di bagian radiator. Keduanya terhubung langsung dengan layar composite berukuran kecil yang diletakkan dibagian atas dashboard. Layar mini ini dapat memonitor pola-pola gerakan pejalan kaki, termasuk gerakan mendadak yang berasal dari samping pengemudi atau pedestrian. Perangkat ini tentu sangat bermanfaat bila pengemudi tengah melintasi jalan atau area yang dipenuhi dengan kerumunan orang, seperti pasar atau jalan-jalan sempit di areal perumahan. Perangkat buatan Siemens itu, kini sudah dicangkokkan pada mobil-mobil papan atas seperti BMW dan Hummer.

Selain Siemens, Motorola juga tengah mengembangkan Moto-Polite, yakni ponsel cerdas yang dapat mengenali kondisi pengemudi saat tengah berkendara. Ponsel ini mampu menganalisa situasi yang dirasa tidak cukup aman bila pengemudi mengangkat ponsel. Misalnya, saat tengah sibuk memarkir kendaraan atau memacu mobil dalam kecepatan tinggi. Juga ketika mobil tengah melintasi jalan yang kondisinya kurang nyaman, seperti medan-medan yang tidak rata bahkan cenderung off-road. Semua panggilan akan dialihkan pada voice mail. Yang lebih menarik lagi, saat fasilitas airbag terbuka karena benturan keras, Moto-Polite akan langsung terhubung dengan nomor darurat 911.

Diluar urusan darurat, tentu saja Moto-Polite akan berlaku seperti ponsel biasa, jika pengemudi tetap menelpon saat parkir, memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi atau melintasi jalan yang tidak rata.

Meski demikian, Moto-Polite telah memberikan alternatif apakah pengemudi menerima panggilan atau tidak dalam situasi yang tidak “menguntungkan” atau cenderung “membahayakan diri”. Bagaimana pun kendali sepenuhnya ada pada pengemudi.

Thursday, November 17, 2011

BlackBerry dan Mimpi Mike Lazaridis


Teknologi nirkabel dengan komunikasi berbasis email, telah menjungkalkan Nokia yang telah malang melintang di pasar smartphone sejak satu dekade terakhir, sekaligus memunculkan pemain baru, seperti BlackBerry sebagai jadi primadona. Kini puluhan juta pelanggan mengakses layanan push email sekaligus mengatrol nama Mike Lazaridis ke jajaran Top Ten Technology Inovators.

Seperti halnya Bill Gates dengan Microsoft, Stan Lee dari Acer dan mendiang Steve Jobs yang membesarkan Apple, membicarakan BlackBerry tentu tidak lepas dari peran seorang Mike Lazaridis. Pria yang dikenal murah senyum ini, adalah dedengkot dibalik kelahiran BlackBerry yang kini sangat fenomenal. Bersama dua koleganya, Co CEO Jim Balsillie dan COO Doug Fregin, Mike sukses mengembangkan smartphone dan layanan push email-nya lewat bendera Research in Motion (RIM).

Sejak didirikan pada 1998, layanan push email ala BlackBerry mampu menggusur pemain sekaliber Nokia dan Sony Ericsson di segmen smartphone. Kini puluhan juta orang di seluruh dunia sangat tergantung dengan BlackBerry, termasuk presiden AS Barack Obama yang lebih senang menggenggam BlackBerry ketimbang iPhone.

Namun menilik kelahirannya, tidak banyak yang tahu bahwa BlackBerry semata merupakan buah keisengan dari pria 50 tahun ini. Setelah kelahiran anak keduanya, Mike rupanya ingin punya lebih banyak waktu dengan keluarga. Alhasil, di rumahnya ia kerap mengutak-atik model algoritma untuk menentukan komposisi yang pas bagi proyek entertainment system yang tengah digarapnya.

Hasilnya adalah DigiSync, teknologi yang membantu mempercepat proses special film tracking. Lewat teknologi itu, nama Mike mulai dikenal dan diperhitungkan. Apalagi penemuan itu, menghantarkannya meraih penghargaan di ajang prestisius, Oscar dan Emmy Award pada 2001.

Meski begitu, DigiSync bukanlah pencapaian akhir. Mike rupanya tak ingin kariernya terbatas sebagai bagian dari industri entertainment Hollywood. Terdorong oleh lompatan teknologi wireless terutama GPRS (General Packet Radio Services) yang merupakan teknologi selular 2,5G, Mike mencoba menawarkan layanan push email dengan label BlackBerry.

Sejatinya BlackBerry diilhami oleh philosopi Mike saat mengembangkan sistem pengawasan internal di Ontario’s Control Data pada awal ’80-an. Kita itu ia melihat banyak kasus ketidaksinkronan diantara engineer dan marketing departement sehingga menimbulkan banyak pemborosan sumber daya. Mike kemudian meyakini, komunikasi melalui email sekaligus sistem pengamanan yang memadai, dapat mendorong efisiensi di banyak sektor, sehingga ujung-ujungnya dapat meningkatkan penjualan.

“BlackBerry tumbuh dan populer di seluruh dunia karena menawarkan solusi end to end, yakni jaringan yang aman, push based wireless email dan akses data, terutama untuk pengguna dari kalangan bisnis”, ujar Mike dalam satu kesempatan.