Wednesday, September 30, 2009

Mengkilatnya Kinerja PGN


Tak dipungkiri, bersama dengan batu bara, gas adalah primadona sumber energi yang dapat menggantikan peran BBM di masa depan. Sekedar diketahui, untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 5/2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif dan terbarukan sebagai pengganti bahan bakar minyak. Dan pilihan terhadap gas bumi menjadi alasan logis, mengingat gas bumi merupakan sumber energi yang kandungannya masih melimpah di tanah air.

Saat ini sekitar 52% sumber energi dalam negeri masih dipenuhi oleh BBM, 28% gas bumi, 15% batu bara, 3% tenaga air dan 2% panas bumi. Dengan semakin berkurangnya . cadangan minyak, otomatis gas bumi merupakan energi pengganti BBM yang paling tepat saat ini.

Merujuk pada road map yang disusun kementrian ESDM, ke depan konsumsi gas dan batu bara akan mulai ditingkatkan untuk menggantikan BBM, sehingga mampu memenuhi kebutuhan energi nasional sampai 53%. Sedangkan BBM menjadi hanya 20%.

Alhasil, dengan prospek yang cerah membuat banyak perusahaan semakin melirik bisnis gas, baik dari sisi eksplorasi maupun distibusi. Kebutuhan yang terus meningkat, pendapatan dalam dollar dan ketidak tergantungan pada harga minyak dunia, membuat kinerja pemain yang terjun di bisnis ini akan terus tumbuh yang ujung-ujungnya akan meningkatkan kapabilitas serta profitabilitasnya di masa datang.

Tengok saja PT PGN Tbk. Perseroan yang tercatat di BEI dengan kode PGAS sejak 1 Desember 2003, punya kinerja yang semakin meyakinkan. Sebagai BUMN yang sahamnya 55,22% dimiliki negara, sisanya 44,78% dimiliki publik, PGN tak pernah henti berekspansi.

Bisnis PGN adalah distribusi dan transmisi gas bumi sampai kepada end user. Saat ini PGAS mengoperasikan tiga jaringan pipa transmisi yaitu Grissik ke Duri (1998), Grissik ke Singapura (2003) dan Medan serta Jakarta-Bogor dengan total 1.015 km. Jaringan transmisi South Sumatra to West Java (SSWJ) yang baru selesai dibangun dengan panjang lebih dari 1000 km. Jaringan distribusi ini untuk mengirim natural gas dari lapangan Conoco Phillips di Grissik dan Pagardewa Sumatera Selatan ke Jawa Barat dan Jakarta sebagai pasar terbesar PGAS. Transmisi SSWJ ini jelas meningkatkan economic value added yang tinggi bagi PGN di masa depan.

PGN memfokuskan usahanya pada dsitribusi dan transmisi gas LNG C. PGN menandatangani konrak jangka panjang dengan dengan pemasok dari sektor hulu, yang men-supply perusahaan dengan gas bumi secara teratur dan pada harga yang tetap, kemudian menyalurkannya pada pemakai akhir.

Sekitar 97% pelanggan PGN adalah rumah tangga, sisanya komersial dan industri. Namun dalam segi volume industri menyerap sampai 98% dari total volume, sisanya 2% diserap rumah tangga dan komersial. Sebagian besar pendapatan PGN adalah dalam bentuk denominasi mata uang US$.

Distribusi memberikan kontribusi sekitar 80% pendapatan PGN yang mana 80% dalam US$. Disamping itu PGN memonopoli bisnis distribusi dan trasmisi gas dalam skala nasional bersama anak perusahaannya dalam bentuk SBU.

Pada semeseter pertama 2009, kinerja PGN semakin meyakinkan. Perusahaan pelat merah ini mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 9 trilyun atau meningkat sebesar 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan pendapatan ini membuat laba bersih PGAS juga melonjak, yakni sebesar Rp 3,19 trilyun yang merupakan kenaikan sebesar 135% dari laba bersih pada semester pertama 2008.

”Pendapatan PGN yang melonjak karena perusahaan berhasil meningkatkan penyaluran gas bumi sebesar 37% guna memenuhi kebutuhan dalam negeri”, jelas Dirut PGN Hendi Prio Santoso.

Kinerja PGN memang terdongkrak setelah perusahaan itu menyelesaikan jaringan pipa transmisi SSWJ pada Agustus 2008. Alhasil, PGN dapat meningkatkan penyaluran gas bumi ke wilayah Jawa Barat secara signifikan. Gas bumi dari hasil penyaluran pipa SSWJ digunakan oleh pembangkit listrik, pelanggan industri, pelanggan komersial dan rumah tangga, di tiga wilayah yakni Banten, Jawa Barat dan Jakarta.

Menurut Corporate Secretary PGN Wahid Sutopo, PGN pada paruh kedua 2009 akan melanjutkan upaya peningkatan penyaluran gas bumi kepada pelanggan melalui sejumlah proyek distribusi dan transmisi. ”Dengan demikian manfaat dari gas bumi semakin meluas dirasakan oleh masyarakat”, ujarnya.

Tuesday, September 29, 2009

Kantong Konsumen Vs Kantong Jasa Marga


Hari ini mungkin Anda sempat menggerutu saat melintas di jalan tol langganan, karena tarif lama sudah tidak berlaku lagi. Memang, mulai 28 September pukul 24.00, tarif di sejumlah ruas tol yang dikelola oleh Jasa Marga, cs mengalami kenaikan yang besarnya bervariasi, terendah Rp 500 dan tertinggi Rp 10.500.

Seperti umumnya kenaikan tarif, Anda dan juga banyak kalangan masyarakat lainnya menilai kebijakan pengelola jalan tol sangat tidak fair. Apalagi jika merujuk pada penetapan UU No. 38 Tahun 2004, dimana pengelola jalan tol akan menikmati kenaikan tarif yang diatur secara otomatis setiap dua tahun sekali sesuai dengan perhitungan inflasi. Kebijakan itu sangat kontras karena sejauh ini belum ada peraturan yang mengatur setiap terjadi inflasi, maka akan ada kenaikan gaji atau upah. Apalagi disisi lain, kualitas layanan operatol tol belum maksimal.

Dampak kenaikan tol memang tidak bisa dianggap enteng. Biaya distribusi barang pasti membengkak. Operator angkutan penumpang juga sudah ambil ancang-ancang untuk menyesuaikan tarif. Ujung-ujungnya, pengguna akan terbebani dengan tarif baru yang besarnya bervariasi. Jadi konsumen akan tertimpa ”tangga” dua. Kenaikan harga bahan pokok dan membengkaknya biaya transportasi. Alhasil, kantong konsumen akan semakin tipis saja. Terutama bagi mereka yang berpendapatan tetap (fixed income).

Jika konsumen berteriak, tentu saja PT Jasa Marga Tbk girang bukan kepalang. Kenaikan tarif yang sudah ditunggu sejak dua tahun itu menjadi berkah bagi BUMN itu. Betapa tidak, pundi-pundi mereka akan semakin menebal. Diproyeksikan, Jasa Marga akan memperoleh kenaikan pendapatan hingga 10% dibanding periode sebelumnya.

Dirut Jasa Marga Frans Sunito bilang, dengan kenaikan sebesar 13-17% pada 14 rual tol miliknya, pendapatan Jasa Marga akan tumbuh 10% menjadi Rp 3,6 trilyun dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 3,2 trilyun.

Dengan tambahan fulus sebesar itu, Frans optimis pihaknya dapat terus melanjutkan proyek yang sudah dicanangkan. Sekedar diketahui, tahun ini Jasa Marga mulai membangun jalan tol baru sepanjang 200 Km. Tol itu adalah Bogor Ring Road, JORR II, Semarang – Solo, Surabaya – Mojokerto, dan Gempol – Pasuruan. ”Kami perkirakan pembangunan selesai dalam 4 tahun ke depan. Nilai investasinya sekitar Rp 20 trilyun”, ujarnya.

Sumber pendanaan untuk lima proyek baru itu, 30% berasal dari pendanaan sendiri dan 70% merupakan pinjaman dari perbankan. Bank yang sudah berkomitmen adalah bank-bank pelat merah, yakni Bank Mandiri, BRI dan Bank BNI. Namun, imbuh Frans, pihaknya tidak menutup kemungkinan melibatkan perbankan swasta.

Ke depan, tak hanya membangun jalan tol baru, Jasa Marga juga berencana untuk mengakuisi sejumlah ruas tol sepanjang 20 Km. Namun untuk yang satu ini, Frans belum bersedia mengungkapkan ruas tol mana yang dimaksud.

Jadi bagi Jasa Marga, rupanya tak ada investasi baru jika tidak ada kenaikan tarif tol. Meski masyarakat akan terus terbebani. Mungkin ini yang disebut dengan simalakama. Repot memang!

Monday, September 28, 2009

10 Negara Hemat Energi


Majalah Forbes belum lama ini menurunkan laporan menarik menyangkut daftar negara yang terbilang “hemat energi”. Setelah meneliti sebanyak 75 negara terbesar dalam hal total produk domestik bruto dimana "intensitas energi" ditentukan dalam BTUs per dolar AS, ditemukan 10 negara yang terbilang efisien dalam mengkonsumsi energi. Inilah ke 10 negara yang tidak boros itu.

No 1: Jepang
Intensitas Energi: 4.519 BTUs per dolar PDB
Konsumsi: 22,6 milion lipat empat BTUs

Sebagai raksasa ekonomi, Jepang yang dikenal sebagai negeri kepulauan memiliki kebutuhan yang tingggi akan sumber-sumber energi. Kedekatan itu merupakan harga mati, agar roda ekonomi tetap tumbuh, tanpa harus tercekik oleh impor energi yang semakin terbatas dan berharga mahal. Saat ini Jepang telah berpaling ke efisiensi energi untuk mengurangi konsumsi energi fosil (bahan bakar) dan sekaligus untuk mengontrol emisi karbon dioksida.

No 2: Denmark
Intensitas Energi: 4.845 BTUs per dolar PDB
Konsumsi: BTUs kuadriliun ,83

Bukan kebetulan bila negeri kecil di Eropa Barat ini, menyodok ke peringkat dua. Hal ini berkat kebijakan energi yang sudah berjalan lama dan upaya agresif pemerintah (termasuk pajak energi yang tinggi) untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil asing. Denmark tampaknya mengambil pelajaran penting dari krisis minyak 1973, yang pernah menyebabkan mereka kelimpungan dalam memasok kebutuhan energi.

No 3: Swiss
Intensitas Energi: 4.901 BTUs per dolar PDB
Konsumsi: 1.27 kuadriliun BTUs

Satu inisiatif di Swiss yang telah berkontribusi pada peningkatan efisiensi energi, adalah kebijakan menunjuk kota-kota sebagai "energiestadts" atau energi kota. Menurut badan PBB, OECD mengenai tinjauan lingkungan, pemerintah daerah bekerja untuk mendapatkan label, serta pemerintah lainnya dibantu kalangan swasta, menjadikan Swiss mampu mencapai 29% peningkatan efisiensi energi pada tahun 2004 saja. Itu bagian dari alasan mengapa Indeks Kinerja Lingkungan 2008 yang diumumkan oleh Universitas Columbia dan Universitas Yale mendudukkan Swiss sebagai negara hijau dunia.

No 4: Hong Kong
Intensitas Energi: 4.911 BTUs
Konsumsi:1,04 milion lipat empat BTUs

Salah satu keuntungan dari memiliki sedikit tanah sebagai Hong Kong: ada tidak cukup banyak ruang untuk membangun pabrik-pabrik dengan intensitas energi tinggi. Meski Hong Kong kini merupakan wilayah administratif khusus Cina, konsumsi energi masih dilacak secara independen oleh badan khusus, yakni Administrasi Informasi Energi. Badan ini juga mencatat, konsumsi energi Hong Kong jauh lebih baik daripada Cina. Cina menggunakan 35.000 BTUs per dolar PDB - lebih dari tujuh kali lebih banyak dibandingkan Hong Kong.

No 5: Irlandia
Intensitas Energi: 5.315 BTUs per dolar PDB
Konsumsi: 0,66 milion lipat empat BTUs

Sebuah laporan mengenai energi berkelanjutan 2007 yang diterbitkan oleh Badan Energi Nasional Irlandia, menemukan bahwa Irlandia adalah salah satu negara dengan tingkat efisiensi energi yang terbilang tinggi. Berbagai formula dan kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah Irlandia, mendorong perubahan-perubahan struktural dalam industri. Dalam beberapa dekade terakhir, kebijakan industri Irlandia lebih difokuskan pada peningkatan pembuatan obat-obatan dan elektronik. Satu keuntungan dari kebijakan: Ini adalah rendah intensitas energi industri.

No 6: Inggris
Intensitas Energi: 6.145 BTUs per dolar PDB
Konsumsi: 10 kuadriliun BTUs

Meskipun Uni Eropa merupakan produsen terbesar minyak dan gas alam, Inggris tidak dapat menghasilkan daya yang cukup untuk ekonominya. Inggris sekarang menjadi pengimpor gas alam dan akan segera menjadi pengimpor bersih minyak. Untuk memenuhi tantangan ini, negara yang dipimpin oleh Gordon Brown itu sedang mengejar efisiensi energi yang lebih tinggi.

No 7: Israel
Intensitas Energi: 6.719 BTUs per dolar PDB
Konsumsi: 0,85 milion lipat empat BTUs

Timur Tengah dan Afrika Utara selama ini dikenal sebagai salah satu daerah terburuk untuk efisiensi energi. Sumber daya alam yang melimpah telah meninggalkan sebagian besar wilayah dengan sedikit insentif untuk fokus pada efisiensi. Namun hal itu tidak berlaku pada Israel. Kurangnya persediaan dan keinginan untuk menjadi negara dengan predikat pasca ekonomi industri, telah mengakibatkan negeri Zionis itu menjadi jauh lebih efisien daripada tetangga-tetangganya.

No 8: Italia
Intensitas Energi: 7.118 BTUs per dolar PDB
Konsumsi: 8,08 milion lipat empat BTUs

Seperti banyak negara hemat energi, Italia hanya memiliki sedikit sumber daya domestik. Impor listrik mahal yang semakin mahal mendorong negeri spaghetti ini, untuk menyediakan listrik yang cukup untuk memenuhi permintaan. Sejak 1991, Badan Rencana Energi Nasional telah fokus pada efisiensi energi, sehingga Italia rakyat kini menikmati pasokan energi yang melimpah namun tetap hemat.

No 9: Jerman
Intensitas Energi: 7.396 BTUs per dolar PDB
Konsumsi: 14,5 milion lipat empat BTUs

Jerman memiliki cadangan besar batu bara, yang memungkinkan negara itu menciptakan lebih banyak alokasi energi dibandingkan banyak negara tetangga yang miskin sumber daya. Meski begitu Jerman tidak terlena. Buktinya konsumsi energi Jerman terbilang efisiensi Jerman. Sejak beberapa dekade, para kanselir di negara itu terus memperbaiki infrastruktur dan pengembangan sumber energi terbarukan. Meskipun masih kalah dibandingkan Inggris, denmark atau Italia, Jerman memimpin di kategori yang lain: Sebagai contoh, Jerman adalah negara terbesar di dunia untuk katagori pembangkit energi angin.

No 10: Austria
Intensitas Energi: 7.430 BTUs per dolar PDB
Konsumsi: 1.54 kuadriliun BTUs

Austria, juga mempunyai energi yang seefisien tetangganya, Jerman. Jika Jerman memiliki keuntungan dengan melimpahnya tenaga angin, Austria punya kelebihan dalam hal listrik tenaga air. Hampir setengah pasokan listrik di negara itu dipasok dari tenaga hidro-elektrik yang berasal dari tanaman. Menurut Indeks Kinerja Lingkungan, Austria adalah negara hijau ke enam di dunia. Meski begitu, Swiss masih lebih hijau dan lebih efisien.

Sunday, September 27, 2009

Bukan Tugas ATPM Semata


Empat hari menjelang lebaran (16/9) lalu, saya diminta menjadi moderator pada diskusi yang diselenggaran Ceras (Center for Safety Riding Study) di Hotel Sofyan, Tebet. Diskusi yang memilih tajuk ”Peran ATPM Dalam Menghadapi Ledakan Pemudik Sepeda Motor”, menghadirkan Ketua AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia) Gunadi Sindhuwinata, Edo Rusyanto (Chairman Ceras) dan Kasat PJR Polda Metro Jaya Iptu Ipung Kurnia.

Dalam diskusi itu, Edo memperkirakan lonjakan angka kecelakaan yang semakin meningkat terutama yang melibatkan pemudik sepeda motor. Perkiraan Edo didasari pertimbangan yang sederhana saja, yakni jumlah pemudik sepeda motor pada 2009 yang melonjak menjadi 2,6 juta dibandingkan pada 2008 sebanyak 2,2 juta. Sementara manajemen transportasi, serta fasilitas dan infrastrukur jalan tidak mengalami peningkatan.

Dan kekhawatiran itu kini terbukti. Hingga hari ke-13, Minggu (27/9), dari 1.437 kasus kecelakaan, sekitar 70,79% atau sebanyak 1.372 kasus merupakan kecelakaan yang melibatkan pengendara sepeda motor. Jumlah korban tewas mencapai 593 jiwa atau setara dengan 45 jiwa per hari. Memilukan.

Dibandingkan 2008, kasus selama 13 hari tahun ini, meningkat sekitar 5%. Data tersebut masih sementara, jika diakumulasikan kasus kecelakaan sepanjang H+7 atau Minggu (27/9), boleh jadi jumlah korban jiwa bakal melampaui 600 orang. Tahun lalu, korban jiwa 633, sedangkan korban luka berat dan luka ringan masing-masing 780 orang dan 1.336 orang.

Gunadi Sindhuwinata mengakui bahwa pilihan mudik dengan sepeda motor adalah buah dari keterpaksaan. Mengingat sepeda motor kini menjelma menjadi sarana transportasi utama karena sistem transportasi belum bagus. Alasan itu melengkapi pertimbangan lain yakni mudik dengan motor tidak menguras kantong. Untuk menekan angka kecelakaan, pihaknya mendorong para ATPM untuk menggelar mudik bersama sebagai bentuk moral obligation. Selain membangun posko-posko di sejumlah tempat di jalur mudik, ATPM juga aktif memberikan pengawalan berkoordinasi dengan kepolisian.

Namun Gunadi tidak setuju jika jika sepeda motor dituding sebagai biang keladi kemacetan dan penyebab kecelakaan. ”Jika manajemen lalu lintas ditingkatkan dan infrastruktur terus diperbaiki maka hal itu dapat menekan tingkat kecelakaan lalu lintas terutama pengguna sepeda motor”, papar pria yang juga Presiden Direktur PT Indomobil Sukses International Tbk itu.

Terlepas dari polemik itu, Edo yang juga pengurus Road Safety Association (RSA) menilai, keselamatan di jalan merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah dan masyarakat. “Kalau transportasi nyaman dan aman serta terjangkau, secara alamiah manusia memilih moda transportasi tersebut untuk bepergian. Tidak akan memaksakan diri naik motor ratusan kilometer,” katanya.

Guna pencegahan kecelakaan, imbuh Edo, butuh sosialisasi soal pentingnya keselamatan kepada pengguna jalan, seperti kepada bikers via komunitas/klub motor dan kantong-kantong masyarakat pemudik. “Dilakukan secara berkesinambungan mulai saat ini, jangan menunggu besok atau jelang Lebaran,” papar dia.

Karena itu, lanjutnya, sudah saatnya dikampanyekan secara terus menerus tentang berkendara yang bertanggungjawab (responsible riding). Termasuk menerapkan pengawalan oleh kepolisian untuk rombongan arus mudik dan arus balik. ”ATPM bisa diajak kerjasama untuk mengkoordinasikan hal tersebut,” ujar Edo.

Thursday, September 24, 2009

Lampu Merah Indosat!


Bisa jadi 2009 merupakan tahun yang cukup berat bagi Indosat. Operator nomor dua terbesar di Indonesia ini mencatat kinerja kurang membanggakan. Tengok saja laporan keuangan semester pertama 2009. Laba bersih perusahaan halo-halo yang baru berganti jajaran direksi ini, turun 4,6% menjadi Rp 1,007 triliun (unaudited) dibandingkan periode yang sama sebelumnya Rp 1,05 triliun. Anjloknya laba ini terutama dipicu oleh tekanan kurs akibat melemahnya rupiah terhadap dollar karena imbas krisis finansial global.

Tak hanya loyonya rupiah yang jadi biang keladi. Melorotnya jumlah pelanggan juga turut andil atas buruknya kinerja Indosat. Pada semester pertama 2009, Indosat tercatat telah kehilangan pelanggannya sebanyak 3,5 juta dari 32,4 juta menjadi 28,9 juta atau turun 10,9%.

Nah, ujung-ujungnya performa yang kurang apik tercermin pada masa lebaran. Dari tiga besar operator seluler, cuma Indosat yang trafik percakapan suaranya turun saat Lebaran. Sementara, Telkomsel dan Excelcomindo Pratama (XL) malah naik.

Telkomsel yang memiliki 78 juta pelanggan seluler, mencatatkan minutes of usage panggilan suara selama 953 juta menit pada 20 September 2009, atau tepat pada hari-H Idul Fitri 1430 H kemarin.

"Meningkat 100 juta menit dibandingkan trafik normal," ujar Manager Corporate Communication Telkomsel Suryo Hadiyanto. Sementara Indosat yang memiliki 28,9 juta pelanggan seluler, hanya membukukan 3,32 juta Erlang atau setara dengan 199,3 juta menit okupansi jaringan. “Angka itu turun sekitar 11,22% dibandingkan dengan lalu lintas suara pada hari biasa di pertengahan Agustus 2009," aku Adita Irawati, Group Head Corporate Communication Indosat.

Sedangkan XL yang digunakan 25 juta pelanggan seluler, pada hari H Lebaran tahun ini mencatat pertumbuhan panggilan suara 6% dengan jumlah menit percakapan
melonjak 40%. "Naik dari 450 juta menit menjadi 630 juta menit," tandas Manager Corporate Communication XL Febriati Nadira.

Rontoknya jumlah pelanggan Indosat, tampaknya semakin memacu XL untuk mengambil alih posisi kedua. Hasnul Suhaimi, bos XL haqul yakin posisi nomor dua akan segera diraih perusahaannya.

Sejak dikomandani oleh Hasnul yang nota bene mantan Dirut Indosat, kinerja XL memang semakin apik. Pada akhir tahun 2008, XL meraih 26 juta nomor, naik sekitar 67% dibanding tahun 2007 sebanyak 15,5 juta nomor. "Selama 2008 pelanggan XL tumbuh sebanyak 10,5 juta nomor, sementara pada 2009 diproyeksikan hanya tumbuh 4 juta nomor," ujar Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi sambil tersenyum.

Nah, sesuai proyeksi itu, berarti pada akhir 2009, XL akan menggenapi jumlah pelanggan hingga 30 juta. Tentu saja senyum Hasnul akan tambah mengembang jika dilain sisi, Indosat mencatat pertumbuhan yang stagnan atau malah kembali rontok. Karena dengan demikian, cita-citanya mengantarkan XL menjadi operator terbesar kedua di Indonesia akan tercapai.

Wednesday, September 23, 2009

Diperlukan Iklan Yang Lebih ‘Safety’


Jika Anda perhatikan, ada yang berbeda dari tayangan iklan Vario CBS Techno, skuter matic terbaru keluaran AHM (Astra Honda Motor). Tak sekedar menekankan pada unsur desain dan akselerasi, AHM juga menyelipkan fitur keselamatan comby brake yang dapat membantu fungsi pengereman lebih sempurna. Tampaknya, ditengah ’pemujaan’ terhadap performa dan gaya yang selama ini menjadi ’berhala’ paling ampuh untuk menarik pengguna motor, AHM tidak saja mencoba keluar dari gaya iklan konvensional, namun juga mengingatkan pengguna akan pentingnya kesadaran atas safety riding.

Terlepas dari perdebatan soal efektifnya si comby brake, setidaknya AHM mencoba menjadi trend setter terkait dengan isu safety riding yang saat ini terasa semakin krusial, mengingat tingginya kecelakaan lalu lintas yang didominasi oleh pengguna sepeda motor. Gaya iklan AHM itu sekaligus juga dapat mengingatkan kepada vendor otomotif lain yang selama ini masih mengandalkan pola-pola klasik, yang cenderung tidak mengindahkan aspek safety riding.

Tak usah jauh-jauh. Tengok saja iklanYamaha Jupiter MX ala YMKI (Yamaha Motor Kencana Indonesia). Menggunakan pelawak Komeng dan juara dunia MotoGP Valentino Rossi, iklan itu banyak dikritik sejumlah penggiat safety riding. Karena saking cepatnya si Jupiter MX itu, sampai-sampai jembatan pun runtuh dan baju dan celana Komeng pun sobek, mirip pengemis yang awut-awutan tak berbentuk.

Iklan lain yang juga jelas-jelas tidak mengindahkan aspek safety riding adalah iklan versi print dari produsen oli Castrol. Tengok saja, dua pengendara sepeda motor sport masing-masing membawa boncenger. Pada motor sport yang pertama terlihat boncenger asyik memeluk pundak rider-nya, sedangkan di motor lainnya, sang boncenger duduk menyilangkan kaki tanpa berpegangan dengan sang rider. Selain cara berboncengan yang seakan mengabaikan aspek keselamatan, iklan itu juga menampilkan rider yang tidak mengenakan jaket. Bahkan, hanya menggunakan kaos singlet yang menonjolkan kekekaran otot sang rider. Padahal, motor sport bisa dipacu di atas 80 km.

Bagi para penggiat safety riding, iklan Castrol itu dinilai cuma sekedar gaya. Karena ingin menampilkan performa, justru terjebak dan tidak peduli dengan keselamatan berkendara. Lebih parahnya, iklan itu juga tidak sejalan dengan kampanye agar para rider melengkapi diri dengan alat perlindungan diri (APD), mulai dari sepatu, jaket, sarung tangan, hingga helm yang dapat membantu mengurangi resiko kecelakaan.

Ironisnya, iklan Castrol ini ternyata kontras dengan iklan milik oli Federal. Dalam iklan di media cetak itu, Federal terlihat lebih santun. Selain menampilkan kemasan oli, juga divisualkan tiga rider dan sepeda motornya lengkap atribut lengkap APD.

Pertanyaannya, mengapa Castrol sebagai produsen oli yang cukup terkenal itu tidak menampilkan sosok pengendara yang peduli pada safety riding? Padahal, pesan iklan bisa mempengaruhi persepsi khayak luas. Tentu bakalan runyam, jika persepsi yang dibangun membuat masyarakat justru tidak aware terhadap safety riding. Padahal persepsi yang harus dibangun adalah pentingnya APD dan perilaku berkendara yang bersahabat dan bertanggung jawab di jalan. Karena dengan memperbaiki perilaku, momok tingginya kecelakaan sepeda motor dapat ditekan.

Wednesday, September 16, 2009

CIMB Niaga, Antara Nazir Razak dan Robby Johan


Sudah lama saya bergabung dengan Bank Niaga sebagai nasabah, yakni sejak 1997. Tak banyak pertimbangan memilih bank ini, selain karena pertimbangan dekat dengan kantor saat itu di bilangan Blok M. Kalaupun sedikit pertimbangan idealis, mungkin karena Bank Niaga adalah segelintir bank ‘nasionalis’ alias pribumi asli namun punya reputasi bagus. Kebetulan juga saya pengagum Robby Johan, Presdir Bank Niaga saat itu, yang juga dikenal sebagai salah satu ‘empu’ manajemen di republik ini.

Sayang, target Robby untuk menempatkan Bank Niaga sebagai bank ke lima terbesar di Indonesia tidak tercapai. Krisis moneter yang meluluh lantakan sendi-sendi perbankan pada 1998, telah mengubah lanskap industri dan jasa keuangan di Indonesia. Alhasil, banyak bank lokal yang collapse. Mereka yang mampu bertahan kebanyakan berganti majikan karena aturan BI yang mensyaratkan kecukupan modal (CAR) 8% tak mampu dipenuhi pemilik lama. Termasuk juga Bank Niaga. Dengan masuknya grup CIMB dari Malaysia, serta rampungnya proses merger dengan Bank Lippo, kini Bank Niaga berganti wajah menjadi CIMB Niaga.

Masuknya CIMB ke Bank Niaga juga menjadi catatan menarik. Sebelum mengakuisisi Bank Niaga, CIMB Group ternyata punya banyak resistensi. Dalam satu kesempatan, CEO CIMB Group Nazir Razak mengungkapkan bahwa akusisi atas Bank Niaga sempat membuat nilai saham perusahaan anjlok hingga 20% dan publik menjadi pesimis. “Coba pikirkan, saat itu orang-orang bersikap khawatir dengan buruknya kondisi Indonesia. Namun kami (CIMB Group) yang pertama kali dan sat-satunya perusahaan yang berani membeli Bank Niaga”, ujarnya.

Ditengah kepungan opini minor, Razak tak bergeming. Meski begitu, keputusan mengakusisi bank di kawasan Asia Tenggara merupakan keputusan paling menantang baginya. Pasalnya, langkah strategis itu harus diambil saat krisis ekonomi melanda ke seluruh negara-negara Asean. ”Bila Anda lihat disekeliling Asean, orang-orang mengingkari janji. Ada lagi yang bilang keuangan CIMB akan jatuh ke jurang. Kami memang punya dana US$ 1,4 milyar, tapi harus hati-hati, kokoh dan yakin pada pandangan sendiri. Melihat secara jangka panjang dan harus meningkatkan nilai tambah”, tambahnya.

Belakangan sejalan dengan membaiknya iklim perbankan dan dunia usaha di Indonesia, keputusan CIMB mengakuisisi Bank Niaga terbukti adalah keputusan tepat. Kinerja bank yang pernah dikuasai oleh Hasyim Djoyohadikusumo itu semakin membaik. Pada semester 1 2009, CIMB Niaga yang kini dikomandani oleh mantan Dirut Telkom Arwin Rasyid, membukukan laba bersih Rp 696 milyar atau meningkat 20% bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 578 milyar.

Meroketnya laba bersih itu juga sekaligus mendongkrak total asset mencapai Rp 102,1 trilyun atau meningkat 2% dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 100,6 trilyun. Dan yang lebih penting, kinerja yang apik itu telah melonjakkan CIMB Niaga sebagai bank terbesar ke lima di Indonesia. Dus, cita-cita Robby Johan benar-benar kesampaian meski bank yang dibesarkannya itu bukan lagi bank asli Indonesia. Apakah Robby sudah berterima kasih pada Razak? Entahlah.

Monday, September 14, 2009

Astra Internasional dan Tantangan PR di Era Digital


Sebagai salah satu perusahaan publik terkemuka, Astra Internasional (AI) kerap menjadi rujukan bagi banyak perusahaan di Indonesia. Menurut GM Corporate Communication PT Astra Internasional Tbk, Yulian Warman setelah tata kelola yang baik (Good Corporate Governance), salah satu tantangan ke depan bagi AI adalah meningkatkan kinerja PR di era digital.

Melihat perkembangan di era digital sekarang ini, Yulian menandaskan bahwa kecepatan dalam memberikan serta merespon informasi merupakan poin paling kritikal, karena saat ini stakeholder tidak lagi dibatasi oleh waktu, jarak dan tempat. Di samping itu, berbagai media dot com atau online tumbuh bagaikan bagaikan jamur di seluruh dunia, termasuk di dalam negeri sendiri, sehingga menambah dampak yang signifikan terhadap suatu arus publikasi.

Yulian mencontohkan, saat jaringan televisi dan dot com secara cepat menyampaikan perusahaan sangat terkenal dan relatif tua, Lehman Brothers, yang berusia di atas 150 tahun collaps. Dalam bilangan detik atau menit informasi itu sampai ke seluruh dunia dan demikian pula pengaruhnya ke bursa saham di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Demikian pula, krisis flu babi yang berawal dari Meksiko direspon dengan cepat melalui berbagai peraturan oleh beberapa negara di bidang ke imigrasian. Informasi tersebut tidak bisa ditahan dan datangnya begitu cepat.

Di Indonesia sendiri, Yulian mencontohkan kasus Prita yang mengguncang sempat mencoreng kredibilitas RS sekelas Omni Internasional, hanya karena keluhan yang disampaikan lewat email. Kepedulian dan dukungan masyarakat luas, membuat Omni terjepit sehingga berdampak terhadap citra perusahaan.

Nah, melihat perkembangan yang begitu cepat, dalam dua tahun terakhir AI mencoba merumuskan beberapa poin penting dalam aktivitas, meskipun hal ini sudah mereka pantau dalam lima tahun terakhir. Para karyawan di bidang PR, diarahkan untuk mengenal lebih jauh tentang dampak dan pengaruh media digital, di antaranya dengan menunjuk person in charge (PIC) yang bertanggung jawab, seperti penggunaan mailing list untuk mempercepat delivery informasi ke stakeholder, termasuk ke media massa, yang dulunya menggunakan mesin fax untuk keperluan berkomunikasi dengan stakeholder. Selain itu, PIC ini juga menginventarisir berbagai media digital yang lebih dekat hubungannya dengan bisnis grup perusahaan.

Sejak setahun lalu, AI juga menambah wawasan karyawan untuk lebih mendalami perkembangan digital PR ini dan bahkan dalam forum komunikasi yang telah diadakan sejak tahun lalu dengan mengundang beberapa pakar dan praktisi, termasuk yang ada kaitannya dengan cyber crime. Tahun ini Yulian berencana memperkuatnya dengan mengundang pakar lain di bidang digital PR ini yang menekankan pentingnya PR di era digital.

Bagi Yulian, tantangan PR di era digital juga karena dunia maya itu memiliki karakteritik tersendiri dimana orang cenderung memanfaatkan celah yang ada untuk kepentingannya. Sebagai contoh, pada 2008 pihaknya menemukan sebuah media online yang meng-copy informasi di website Astra untuk hal-hal yang tidak pada tempatnya sehingga kalau dibiarkan akan membingungkan stakeholder. Usut punya usut, situs yang mirip dengan AI itu berbasis di Hong Kong dan menjual alat-alat di bidang perkapalan. Agar tidak merugikan AI, ia merespon dengan cepat ke situs tersebut dan menyatakan keberatan. Akhirnya informasi tersebut langsung dihilangkan.

Di samping itu ada pula pihak lain memanfaatkan domain yang mirip dengan domain AI, yakni www.astra.co.id. Kalau hal ini dibiarkan akan membingungkan stakeholder, sehingga perlu waktu yang cepat menjelaskan ke pihak pengelola online tersebut.

Menurut Yulian, esensi lain yang tidak kalah penting bagi aktifitas PR di era digital adalah bagaimana membangun komunitas. Dengan mengetahui dan memahami komunitas, maka hal itu akan sangat membantu anak-anak perusahaan yang ada dalam Grup Astra untuk mengetahui lebih jauh suara komunitas di masing-masing produk mereka. Oleh sebab itu, beberapa perusahan yang telah menyadari pentingnya komunitas ini telah membuat aktivitas sendiri dalam program tahunannya. Sebut saja PT Astra Honda Motor dan PT Toyota Astra Motor. Mereka telah lama menyadari pentingnya komunitas produk mereka.

Yulian yang asli Bukit Tinggi menandaskan bahwa peran komunitas tersebut benar-benar dirasakan bagi perusahaan untuk mendengar suara konsumen atau pengguna produk secara langsung, sehingga dapat direspon secara cepat pula.

Sunday, September 13, 2009

Belajar Dari Operator IPTV Kelas Dunia


Berbagai kalangan sepertinya sudah tidak sabar dengan layanan IPTV, terutama bagi mereka yang sudah pernah menyaksikan tayangan IPTV di negara-negara lain. Beragam program TV interaktif dengan gambar berkualitas melalui jaringan Internet pita lebar (broadband) yang terkelola dengan baik, membuat tayangan IPTV jauh lebih lebih menarik. Ragam layanan IPTV di antaranya Electronic Program Guide, Broadcast/Live TV, Pay Per View, Personal Video Recording, Pause TV, Video on Demand, Music on Demand (Walled Garden), Gaming, Interactive advertisement, dan T-Commerce.

Di Indonesia sendiri ada beberapa penyelenggara telekomunikasi yang sudah sangat berminat dan siap untuk menyediakan layanan tersebut. Dan sejauh ini, Telkom mengaku paling siap untuk menggelar layanan IPTV. Hal itu dapat dimaklumi karena IPTV identik dengan keterlibatan operator telekomunikasi yang memang rata-rata sudah siap dengan content dan inftrastruktur.

Pengalaman negara-negara lain barangkali dapat bermanfaat bagi operator telekomunikasi di Indonesia, sebelumnya menyelenggarakan layanan sejenis. Inilah beberapa diantaranya.

Brasil Telecom
Operator IPTV ini pada 15 Desember 2008 telah menandatangani kerjasama dengan studio papan atas Hoollywood, Warner Brothers untuk layanan VOD (Video on Demand). Layanan yang dinamakan Videon itu, termasuk online news yang dipasok dari TV Telco Latam. Kerjasama ini menjadikan Brasil Telecom sebagai operator pertama di kawasan Amerika Latin yang menawarkan layanan dari studio film Hoollywood. Lewat Videon, pelanggan dapat mengakses film-film keluaran Warner Brothers, termasuk 200 judul film klasik.

Tiscali TV
Jika Anda penggemar tayangan liga Italia, mungkin familiar dengan logo Tiscali yang menempel di salah satu klub Seri A, Cagliari. Operator telko asli Italia ini memang tengah gencar berpromosi karena mulai 15 Januari 2009, masyarakat setempat dapat menyaksikan layanan IPTV lewat Tiscali TV. Sebelum sukses dengan tayangan komersial, Tiscali sudah melakukan siaran terbatas sejak pertengahan 2007. Untuk tahap awal, Tiscali TV baru menjangkau tiga Roma, Milan dan Cagliari. Selanjutnya direncanakan dapat diperluas ke Bologna, Genoa, Naples, Palermo dan Turin. Sampai akhir 2009, Tiscali TV menargetkan dapat meraih 50.000 pelanggan.

Orange TV
Setelah Vodafone dan Telefonica, Orange adalah operator nomor tiga terbesar di Eropa. Maraknya layanan IPTV juga membuat Orange turun gunung. Beragam layanan interaktif dan menarik diluncurkan guna menjaring pelanggan. Belum lama ini misalnya, dengan menggandeng pabrikan mobil Citroen, Orange sukses menggelar layanan interactive advertising yang disiarkan secara terbatas di Perancis, dari 4 November hingga 14 Desember 2008. Melalui tayangan Sport Info Channel, pemirsa dapat menyaksikan banner iklan Citroen yang memungkinkan mereka mengklik remote control yang langsung terhubung ke mini site Citroen. Alhasil akan terjadi interaksi langsung, karena pemirsa dapat menyaksikan presentasi produk, permintaan brosur atau langsung mengajukan test drive melalui dealer-dealer yang terdapat pada situ situ. Siaran percobaan ini melibatkan 100 ribu pelanggan Orange TV. Menurut manajemen Orange TV Perancis, layanan interactive advertising akan menjadi salah satu layanan unggulan yang dapat menarik minat pengiklan. Diperkirakan layanan ini akan segera diikuti oleh kompetitor lain dan akan menjadi platform baru layanan IPTV di Eropa mulai pertengahan tahun depan.

Friday, September 11, 2009

IPTV Mesin Uang Masa Depan Telkom


Apa yang akan menjadi cash cow Telkom di masa depan? VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia, tak ragu menyebut IPTV sebagai salah satu revenue generator perusahaan pelat merah itu. Karenanya pasca keluarnya Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 30/PER/ M.KOMINFO/8/2009 tentang Penyelenggaran Layanan Internet Protocol TV (IPTV) pada 19 Agustus lalu, pihaknya mengaku lega.

“Telkom telah siap menggelar layanan ini. Kami sudah melakukan uji coba di lima kota yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Denpasar dengan hasil yang memuaskan,” ungkapnya.

Eddy mengharapkan, IPTV mampu meningkatkan pendapatan dari telepon kabelnya yang cenderung menurun. “Adanya IPTV akan membuat 8,7 juta pelanggan telepon kabel memiliki layanan yang lebih bervariasi seperti IPTV dan akses internet,” jelasnya.

Meski telah siap untuk menggelar layanan ini, Edi menyebutkan bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru. ”Bagaimana pun IPTV adalah layanan baru yang memerlukan edukasi kepada calon pelanggan”, katanya. Untuk itu jelang peluncuran yang diperkirakan pada pertengahan tahun depan, pihaknya tengah menyusun sejumlah program, termasuk menyangkut segmen pasar, dukungan infrastuktur, content serta marketing gimmick yang dapat menyedot animo calon pelanggan.

Soal edukasi, Edi memang benar. ”Perlu waktu untuk memberikan pemahaman yang memadai tentang IPTV”, ujar pria ramah ini. Meski begitu, ia sangat yakin bahwa layanan IPTV akan dapat segera diterima pasar, mengingat masyarakat Indonesia pada umumnya cepat merespon produk atau jasa, apalagi jika itu sudah menyangkut gaya hidup (life style). ”Terutama kalangan menengah atas yang cenderung haus akan tayangan informasi dan hiburan alternatif, dan memiliki purchasing power yang memadai”, tambahnya.

Memang harus diakui, bagi sebagian masyarakat kita, IPTV mungkin masih kedengaran aneh. Kok TV ada internetnya? begitu komentar pada umumnya. Sebagai informasi, IPTV adalah teknologi yang menyediakan layanan konvergen dalam bentuk siaran radio dan televisi, video, audio, teks, grafik, dan data yang disalurkan ke pelanggan melalui jaringan protokol internet yang dijamin kualitas layanannya, keamanannya, kehandalannya, sehingga mampu memberikan layanan komunikasi dengan pelanggan secara dua arah atau interaktif dan real time dengan menggunakan televisi standar.

Masuknya Telkom ke layanan IPTV adalah langkah tepat. Sebab di berbagai belahan dunia lain, terutama di Eropa, IPTV terus berevolusi secara cepat. Data yang dilansir oleh ABI Researh menunjukkan Swedia, Finlandia, Italia, Jerman, Spanyol adalah negara-negara dengan pertumbuhan pelanggan IPTV paling cepat, sehingga menempatkan Eropa sebagai basis pasar IPTV global hingga 50%.

Di kawasan Amerika Utara, dua raksasa telekomunikasi Verizon dan AT&T sudah melayani 1,2 juta pelanggan. Sementara di Asia yang merupakan 1/3 dari pasar IPTV dunia, NTT (Nippon Telephone and Telegraph) meraih sekitar 4,2 juta pelanggan di Jepang, disusul Chunghwa Telecom di Hongkong 1,02 juta pelanggan dan China Telecom untuk pasar China sebanyak 930 ribu pelanggan. Alhasil, sampai dengan akhir 2007, total pelanggan IPTV di seluruh dunia sudah mencapai 13,4 juta pelanggan. Sementara dari sisi pendapatan, naik 93.5 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi US$ 4.5 miliar

Kedepan, IPTV dipastikan akan terus booming. Menurut analisa lembaga riset terkemuka AS, Gartner, jumlah pelanggan IPTV diperkirakan naik 64 persen menjadi 19,6 juta pada tahun 2008. Sementara di 2010, diprediksi lebih dari 48 juta rumah tangga di seluruh dunia akan ikut menggunakan IPTV.

Dari deretan angka-angka tersebut jelas menunjukkan bahwa IPTV adalah virus yang tengah mewabah. Pemicunya apalagi kalau bukan internet. Di Jepang misalnya, layanan IPTV sangat mudah diterima karena pelanggan layanan broadband internet disana sudah menjangkau 28,73 juta pengguna. Bisnis IPTV pun tambah menggeliat sejak 2007 seiring munculnya situs-situs video sharing seperti YouTube atau MetaCafe, situs jejaring sosial seperti Plurk, Meebo, MySpace dan Facebook. Munculnya beberapa layanan baru oleh broadcaster kelas kakap seperti Hulu dari NBC dan News Corp milik Rupert Murdoch, semakin mendorong pertumbuhan IPTV lebih massif.

Nah, jika di banyak negara, IPTV sudah melesat duluan, kita tunggu layanan hiburan masa depan ini dari Telkom.

Thursday, September 10, 2009

Blackberry Jadi-Jadian dan Lost Opportunity Operator


Luar biasa melihat geliat ponsel China dan kemampuan bertahannya di pasar domestik. Setelah ponsel dengan fasilitas TV tuner tidak lagi menjadi key driver, kini mereka ramai-ramai mengepung Blackberry (BB) yang sejak setahun terakhir mampu menyedot animo pengguna ponsel.

Sukses Nexian yang sempat dipelesetkan dengan NexianBerry, mendorong vendor China lainnya untuk tidak melewatkan gula-gula di depan mata. Alhasil, kini semakin bermunculan BB-BB baru rasa China. Tengok saja, setelah HT Mobile lewat seri G30 dan Mito, pertengahan Agustus lalu giliran D-One, yang ikut mengeluarkan produk serupa.

Sekilas ponsel ini mirip dengan BB Javelin atau Curve 8900, namun lebih ramping dan tipis. Ponsel ini juga memiliki trackball yang benar-benar dapat difungsikan. BB ”jadi-jadian” ini memiliki dual SIM card, MP3 player, FM radio, dan juga kamera 2 megapiksel. Produk ini dibanderol seharga Rp 999.000. Seperti halnya Nexian, untuk mendorong penjualan, D-One menggandeng Exelcomindo. Pengguna dapat mengakses Facebook dan chatting gratis selama 5 bulan. Pihak Sarindo Nusa Pratama sebagai principal, sangat optimistis dengan produk berseri DG- 628 ini. Tak kurang dari 500 unit telah disiapkan untuk tiga bulan ke depan.

Sejumlah kalangan menilai, ponsel China yang sempat ”mati angin” akan menemukan kembali pasarnya dengan adanya momentum BlackBerry. Kecenderungan masyarakat Indonesia yang mengikuti gaya hidup, membuat ponsel China yang terkenal murah menjadi alternatif menarik. Tambahan lagi karena virus social networking, saat ini masyarakat semakin memerlukan handset yang tidak lagi sekedar voice dan SMS, namun juga dapat berkomunikasi dengan beragam fitur anyar, seperti yahoo messenger, facebook, dan sebagainya.

Keputusan pemerintah yang sempat membekukan izin importasi BB karena terganjal regulasi layanan purna jual, juga mendorong perubahan selera pasar secara cepat. Kosongnya produk dengan segera diisi oleh BB ala China.

Kondisi inilah yang memicu lost opportunity pada operator. Lihat saja langkah Indosat. Pasca pencabutan pembekuan sertifikasi produk BB oleh Depkominfo awal pekan ini, mereka belum berani merealisasikan importasi BB tipe terbaru dalam jumlah besar.

Dari diskusi saya dengan Group Brand Marketing Indosat Teguh Prasetya, terungkap bahwa Indosat sangat berkeinginan untuk segera mendatangkan BB kelas menengah, yakni Gemini yang sebelumnya sudah banyak dikenal melalui milis atau pemberitaan di berbagai media. Tidak seperti Bold atau Javelin yang berharga di atas 6 jutaan, Gemini meski tidak memiliki fitur lengkap, bisa dipatok dengan harga Rp 3-4 jutaan.

Namun, Teguh tidak terlalu yakin kalau Gemini bisa laku keras, mengingat saat ini semakin banyak beredar produk sejenis keluaran China dan harganya dibawah Rp 1 juta. Melihat kondisi itu, Indosat tampaknya lebih bersikap konservatif. Teguh bilang, untuk tahap awal pihaknya baru berani mendatangkan 20 ribu unit saja. Itu pun baru akan dilepas ke pasar pasca lebaran.

Monday, September 7, 2009

Telkomsel dan Indosat Gagal Kembangkan Mobile Wallet


Bila di banyak belahan dunia, kesuksesan mobile wallet menjadi fenomena. Di Indonesia, lain lagi ceritanya. Dua operator yang dulu sempat bersaudara, Telkomsel dan Indosat, merasakan betul susahnya menggarap layanan ini. Seperti kita ketahui Telkomsel adalah pioneer di bidang ini, lewat brand T-Cash yang diluncurkan pada 2007. Setahun berikutnya, Indosat yang sebagian besar sahamnya kini dikuasai Q-Tel, memperkenalkan Dompetku.

Mantan Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengatakan, jasa dompet digital masih mencari bentuknya di Indoneia. “Kami sudah mengomersialkannya tetapi untuk kelompok tertentu,” katanya. Guntur mengatakan, tantangan yang dihadapi untuk mengembangkan dompet digital terletak pada cara mendorong pelanggan menggunakannya, memperluas mitra merchant, dan mempermudah pelanggan mengisi kembali uangnya di dompet digital.

Senada dengan Guntur VP Digital Business Telkomsel Bambang Suprayogo mengakui, ternyata tidak mudah mengembangkan dompet digital di Indonesia. “Ternyata tidak semudah prediksi awal. Banyak tantangannya. Walaupun regulasi dari Bank Indonesia bisa mendorong jasa ini, tetapi saya rasa masih butuh waktu untuk diterima masyarakat,” katanya.

Untuk diketahui, Telkomsel membenamkan dana sebesar 50 juta dollar AS guna mengembangkan T-Cash. Sebelumnya Telkomsel optimistis, dalam waktu dua tahun dana itu akan kembali jika sepanjang tahun lalu ada 5 juta pelanggan yang menggunakan layanan tersebut. Namun, kenyataan berbicara lain. Hingga sekarang T-Cash hanya mampu menggoda 120 ribu dari 71 juta pelanggan Telkomsel.

Perkembangan T-Cash yang lambat juga bisa dilihat dari jumlah merchant. Saat ini pelanggan T-Cash baru bisa bertransaksi di tujuh merchant, yakni Indomaret, ITB, Jonas Photo, Fuji Image Service, ITS, Pesan Delivery dan Detik Shop.

Nasib Indosat pun setali tiga uang. Perkembangan Dompetku yang kerdil, terlihat dari sisi coverage yang terbatas. Untuk sementara baru dapat dinikmati oleh pelanggan-pelanggan Indosat yang berada di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Begitu pun dengan jumlah merchant. Saat ini Dompetku baru bekerja sama dengan Alfamart menyediakan layanan pembayaran di 100 toko Alfamart di tiga kota itu. Dengan terbatasnya merchant dan coverage, sepertinya Indosat masih memperlakukan layanan ini sebagai ajang uji coba.

Apakah Telkomsel dan Indosat akan tetap mempertahankan layanan ini? Kita tunggu saja.

Sunday, September 6, 2009

Potensi Besar Mobile Wallet (2)


Layanan mobile wallet memang semakin mewabah. Di kawasan Amerika Utara saja, menurut laporan lembaga survey terkemuka InStat, populasi pengguna layanan ini diperkirakan mencapai 40 juta ponsel Di Korea Selatan, SK Telecom memulai layanan ini dengan julukan Moneta. Layanan ini mengintegrasikan aplikasi mobile payment dengan mobile banking. “Di masa yang akan datang layanan mobile wallet tidak akan terpisahkan dengan mobile banking”, ujar Shin-Bae Kim, Eksekutif SK Telecom.

Sementara di Philipina, popularitas mobile wallet langsung meroket karena aplikasi G-Cash yang memungkinkan pengguna ponsel mengirimkan uang cukup melalui SMS dari ponsel ke ponsel. Layanan yang diperkenalkan oleh Globe Telecom (GT) itu, membuat transaksi juga menjadi mudah karena pengguna dapat membeli barang atau jasa yang diinginkan, bahkan aplikasi pinjaman. Sanga wajar jika inovasi GT atas G-Cash, menyabet penghargaan pada ajang GSM Association Award 2005 di Cannes, Perancis.

Bagaimana dengan Jepang? Sebagai negara pertama yang memperkenalkan mobile wallet pada 16 Juni 2004, pertumbuhannya sudah semakin menggila. Diperkirakan terdapat lebih dari 70 juta pengguna layanan ini di seantero Jepang pada 2010. Yang menarik, berbagai layanan pendukungnya juga semakin atraktif dan massif. Seperti fasilitas cash register yang dapat mengenali setiap transaksi. Juga penggunaan finger print scanning untuk melindungi penguna dari resiko pemakain di luar izin pemilik. Diluncurkan layanan HSDPA, dipastikan akan semakin mendorong popularitas mobile wallet di berbagai belahan dunia.

Friday, September 4, 2009

Potensi Besar Mobile Wallet


Suatu hari mungkin pernah terlintas dibenak Anda kemudahan dalam bertransaksi. Membayar apa pun dari tiket bus sampai membeli botol air mineral tanpa harus mengeluarkan dompet. Lebih jauh, saat lupa membawa kartu akses (staf pass), Anda tidak perlu khawatir karena tetap dapat masuk gedung perkantoran. Saat pulang ke rumah, Anda pun tak perlu lagi membuka pintu dengan kunci konvensional. Cukup gunakan dompet elektronik, semua aktifitas tadi dapat dilakukan. Menyenangkan bukan?

Nah, hebatnya impian tadi kini bukan khayalan dengan semakin maraknya layanan mobile wallet. Berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Inggris, AS, Singapura, Malaysia, bahkan Afrika Selatan menjadi contoh sukses aplikasi ponsel masa depan ini.

Tingginya popularitas mobile wallet memang dipicu oleh berbagai fungsi dan kemudahan yang ditawarkan. Tidak seperti aplikasi mobile commerce yang lebih duluan nongol namun kurang populer, mobile wallet memiliki fungsi yang lebih beraneka ragam. Ia tidak sekedar menawarkan fungsi pembayaran, namun juga beragam fungsi lain seperti kartu kredit, loyalty card, travel card, bahkan membership card. Selain itu mobile wallet juga dapat dijejali beragam informasi atau data-data penting si pemilik, seperti passport, informasi kartu kredit, PIN code, online shopping account, booking details, hingga polis asuransi yang telah dilindungi dengan kode atau password tertentu.

Alhasil, dengan seabreg fungsi itu menjadikan beragam aktifitas menjadi lebih menyenangkan dan efisien. Pemilik tak perlu lagi membawa banyak data atau dokumen yang bikin ribet. Sekaligus mengurangi berbagai resiko yang tidak diinginkan.

Lewat mobile wallet, pengguna hanya perlu menenteng ponsel untuk melakukan pembayaran di merchant-merchant yang telah menjalin kerjasama pembayaran dengan mobile wallet. Dan untuk melakukan hal itu, Anda hanya perlu meng up-load uang digital (digital cash) dari kartu kredit ke ponsel, dan menggeseknya pada counter pembayaran.

Anda juga bisa menggsek ponsel pada mesin tiket saat ingin berpergian dengan kereta api, atau menjadikan kartu passport saat ingin login di kios internet. Data yang tersimpan pun dapat diubah tanpa harus perlu kontak fisik, sehingga memudahkan para pengguna bertukar data jika mereka menggunakan aplikasi mobile wallet yang sama. Misalnya, saat melakukan transfer antar bank. Sejauh ini terdapat beberapa model teknologi yang mendukung aplikasi mobile wallet, seperti Near Field Communication (NFC), Radio Frequency (RFID), Bar Code dan Visual Recognizition.

Wednesday, September 2, 2009

Industri Penerbangan Domestik Kebal Krisis


Meksi masih dihantui banyak persoalan, namun pasca penghapusan larangan terbang ke Eropa pada Agustus lalu, industri penerbangan domestik semakin melejit. Hal itu ditandai dengan semakin bersemangatnya sejumlah maskapai menambah rute-rute baru baik domestic maupun regional. Dukungan pesawat-pesawat terbaru membuat langkah maskapai nasional semakin mantap.

Tengok saja Garuda Indonesia. Maskapai papan atas ini, berencana membuka 18 rute baru baik domestik maupun internasional. "13 diantaranya sudah terealisasi," ujar Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Pujobroto.

Mandala Airlines pun kini tengah bersiap terbang ke sejumlah wilayah Australia, negara-negara ASEAN, India, serta wilayah China bagian selatan. "Mudah-mudahan akhir 2009 ini rencana terbang ke sejumlah rute internasional bisa terlaksana," kata Presiden Direktur PT Mandala Airlines Diono Nurjadin.

Corporate Communication Sriwijaya Air Hanna Simatupang menilai, meskipun krisis belum berlalu namun, masa depan industri penerbangan di Indonesia terlihat masih cukup bagus. "Persaingan yang makin ketat sesungguhnya merupakan pertanda bagus bahwa industri ini masih terus tumbuh," tandas Hanna.

Sementara itu Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nursatyo, mengungkapkan bahwa pihaknya berencana membuka rute baru ke Yogyakarta pada akhir tahun 2009 ini. Rute baru ini akan melengkapi rute penerbangan Sriwijaya di wilayah Jawa. Saat ini Sriwijaya masih menyisakan 2 provinsi yang belum diterbangi yaitu Maluku Utara dan Papua.

Dikatakannya selama ini pihaknya masih fokus untuk menggarap pasar Sumatera. Namun pembukaan rute baru ke Yogyakarta perlu dilakukan untuk memperluas pasar meski rute tersebut terkenal ketat persaingannya. "Rute Yogyakarta terkenal gemuk, tapi persaingannya ketat," jelasnya.

Pembukaan rute baru ini, kata dia, tidak terlepas dari target peningkatan penumpang dari 4,3 juta penumpang di 2008 menjadi 5,5 juta tahun di 2009 yang didukung oleh penambahan 6 pesawat baru. Saat ini Sriwijaya telah memiliki 23 pesawat Boeing 737 300-400. "Tahun ini Sriwujaya Air menargetkan pendapatan hingga Rp 3 triliun," imbuhnya.

Berbeda dengan kondisi penerbangan domestik yang semakin mengkilap, secara umum industri penerbangan global terbilang muram. Lesunya perekonomian dunia, tak pelak mengguncang industri penerbangan dunia. Kerugian IATA (The International Air Transport Association) diprediksi mencapai US$ 9 miliar dengan pendapatan anjlok 15% menjadi US$ 448 miliar.

"Ini adalah situasi paling sulit yang pernah dihadapi industri penerbangan. Belum pernah terjadi pengalaman resesi seperti ini dalam dunia ekonomi modern. Industri kita terombang-ambing," ujar Direktur Jenderal IATA Giovanni Bisignani, pada pertemuan tahunan IATA ke-65 di Kuala Lumpur, kemarin.

Giovanni mengatakan resesi ekonomi saat ini paling berdampak buruk bagi industri penerbangan. IATA terpaksa merevisi proyeksi pendapatan US$ 80 miliar dari US$ 528 miliar pada 2008 menjadi US$ 448 miliar tahun ini. "Saat ini kita menghadapi kejatuhan sebesar 15% atau kehilangan pendapatan US$ 80 miliar di tengah resesi global," katanya.

Kondisi ini menggambarkan terpuruknya krisis industri penerbangan bahkan lebih parah ketimbang dampak serangan 11 September 2001, yang menekan penerimaan sektor penerbangan dunia sebesar 7% dan butuh pemulihan 3 tahun.

Menurunnya industri penerbangan ini akan terlihat dari laporan kerugian dari perusahaan penerbangan di seluruh dunia tahun ini. Terutama maskapai Asia-Pacific Airlines, salah satu perusahaan paling berjaya di industri penerbangan yang menguasai lebih dari sepertiga total aset penerbangan dunia, sebesar US$ 3,3 miliar.

Ampuhnya Strategi Desa Mengepung Kota


Majalah Fortune Global Top 500, yang memuat daftar perusahaan-perusahaan terbesar dunia, setiap tahunnya semakin banyak mencantumkan nama-nama China. Tetapi dalam daftar Interbrand top 1.000 merek-merek terkenal di dunia, hingga sekarang, tidak ada satu pun merek Cina. Sebenarnya seberapa jauh perkembangan ekonomi di China? Bisakah China menjadi negara dengan merek-merek sendiri dan bukannya gudang kerja dunia saja?

Harus diakui, meski mulai mendunia, merek-merek China terutama dari sisi kualitas masih dipersepsikan berada dibawah merek tradisional yang sudah lebih dulu populer, baik dari Jepang, AS, Eropa maupun Korea. Uniknya, persepsi ini sebenarnya tidak hanya terjadi di banyak negara lain, namun juga di China sendiri.

Tengok saja di sepanjang Wangfujing, pusat pertokoan terbesar ibu kota Beijing, seolah mendapat kesan bahwa perkembangan ekonomi Cina sudah selesai. Pusat-pusat pertokoan mewah dipenuhi toko-toko terkenal. Klip iklan yang menarik perhatian, memperkenalkan produk-produk terbaru di layar-layar televisi super lebar. Generasi trendy muda Cina memiliki hobi baru: shopping alias berbelanja. Tetapi di antara deretan iklan, seperti Philips, Louis Vuitton, Nikon, Nokia, McDonalds dan Samsung, ada satu yang kurang: merek-merek terkenal Cina.

Liu Baocheng, guru besar pemasaran pada Universitas untuk Bisnis Internasional dan Ekonomi di Beijing mengakui bahwa kesadaran membangun merek pengusaha-pengusaha China masih harus ditingkatkan. Padahal untuk bisa bersaing terutama di tingkat global, investasi dalam membangun reputasi merek tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Menurut Liu, walaupun berbagai daerah di China seperti Wangfujing menunjukkan kemewahan dan kemasyhuran, Cina masih belum memasuki tahap keempat perkembangan.

Kendati demikian, sangatlah penting bagi Cina untuk mengembangkan mereknya sendiri. "Sebuah negara yang menanggapi dirinya dengan serius dan ingin ikut dalam perkembangan ekonomi dunia, harus bisa ikut dalam berbagai bidang. Dan untuk itu, selain produksi, penelitian, pengembangan, investasi merek menjadi keharusan." , ujarnya.

Kritik Liu, tampaknya cukup efektif untuk menyadarkan para pengusaha China akan arti penting sebuah merek. Dampaknya dalam beberapa tahun terakhir, merek-merek asli China mulai berkibar. Mulai dari ritel, perabot rumah tangga, elektronik, otomotif, minuman kemasan, pakaian, makanan cepat saji dan lebih banyak lagi merek-merek yang cukup kuat untuk mendominasi pasar dalam negeri dan untuk berkembang di luar negeri. ”Mereka jelas tengah mengglobal”, ujar Glenn Murphy, Managing Director AC Nielsen di Shanghai, China. Dengan sumber daya dan basis produksi yang sangat luas, China akan cukup besar untuk menggapai dunia, imbuhnya.

Kini ada banyak merek China yang mulai mendunia, seperti GOME, Haier Group, TCL, Lenovo, Wahaha, Geely, Li-Ning, Yonghe-King, Bird, Tsingtao dan lainnya. Tentang Wahaha dibawah ini adalah sekelumit cerita suksesnya.

Wahaha dalam bahasa Mandarin tidak ada artinya. Itu adalah suara anak-anak yang sedang tertawa terbahak-bahak. Kata itulah yang dipakai Zong Qinghou, sang pendiri, saat pertama kali merintis usaha minuman ringan pada 1980. Kini Wahaha adalah produsen minuman botol papan atas di China. Awalnya dalam memperluas pasar, Wahaha tidak secara langsung berkonfrontasi dengan dua merek yang sudah mengglobal, Coke dan Pepsi. Merek ini lebih memilih ke wilayah pedalaman dan pesisir China.

Setelah sukses bergerilya, Zong kembali memproduksi cola yang akan dipersaingkan secara langsung dengan Coca Cola maupun Pepsi Cola. Zong menamakan colanya itu dengan Feichang Cola. Feichang, dalam bahasa Mandarin, berarti istimewa atau amat sangat. Hurufnya dibuat sangat mirip Coca Cola. Warna merahnya juga serupa. Rasanya, kata penggemar, di antara Coca Cola dan Pepsi Cola. Dengan strategi desa mengepung kota, seperti yang dipraktekkan oleh tokoh komunis China Mao Zedong, Zong memfokuskan pemasaran yang dimulai dari kota-kota kecil.

Strategi itu cukup efektif. Feichang Cola sukses menggerogoti pangsa pasar Coke dan Pepsi yang selama ini merajai pasar minuman ringan di China. Hasilnya, Wahaha bukan lagi merek gurem. Tak tanggung-tanggung, Zong diperkirakan meraup omzet hingga Rp 20 triliun pada akhir tahun ini.